Melawan Flu Burung dengan Biosekuriti

12932598_10201729504276846_8720713936523853636_n

PENYEBERAN virus flu burung atau Avian Influenza galur H5N1 masih menjadi ancaman bagi masyarakat Indonesia. Para ahli menyimpulkan bahwa virus flu burung selalu berkembang. Berbagai kalangan mulai dari pemerintah, pemerhati, serta peternak unggas (ayam, itik, entok) diminta agar selalu waspada terhadap penyakit mematikan itu.

Tahun 2003 ketika pertama kali Indonesia diserang virus AI, pemerintah membuat kebijakan memusnahkan ayam di wilayah Sukabumi dan Bogor. Ketika itu banyak peternak rugi dan tak sedikit gulung tikar.

Tahun ini, wabah flu burung kembali merebak. Lebih dari 15.000 ekor unggas di wilayah Jawa Barat mati karena flu burung.  Sebaran wilayah yang termasuk berisiko tinggi adalah Jawa Barat, Banten, Jawa Tengah, Yogyakarta, DKI Jakarta, Jawa Timur, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

Pada pertengahan Agustus 2015 lalu, para peneliti dari IPB telah mewanti-wanti kepada pihak terkait terutama kepada peternak agas waspada terhadap serangan flu burung. Pasalnya, virus flu burung masih akan terus menyerang ernak unggas di wilayah Indonesia.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan IPB Prof. Dr. Drh. I Wayan Teguh Wibawan, MS mengatakan, potensi bahaya AI akan tetap ada di setiap wilayah meskipun wilayah tersebut belum pernah mengalami kasus klinis AI. “Jangan pernah ada dalam benak kita, kalau tidak ada kasus klinis AI di suatu wilayah, bukan berarti virusnya tidak ada di sana,” ujarnya dalam seminar bertajuk “Pemanfaatan Teknologi Vaksin AI Reserve Genetic Dalam Melindungi Usaha Perunggasan Nasional Dari Serangan Wabah HPAI Subtype 5.1” yang diselenggarakan oleh PT IPB Shigeta dan PT SHS International, di IPB Convention Center, Bogor, Rabu (19/8/2015).

Wayab menambahkan, berdasarkan riset terbaru Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) IPB mengenai curahan virus di wilayah padat ternak, di wilayah Sukabumi dan Bogor, sebanyak 21 ternak unggas dinyatakan positif AI H5N1. Sampel pada penelitian tersebut adalah itik, entok, dan angsa. Kendati unggas tersebut dinyatakan wabah AI, tetapi secara kasat mata unggas tersebut tampak sehat.

Dalam penelitian itu, FKH IPB juga mendapatkan AI subtipe lain, seperti H5Nx, HxNx, HxN1, dan HxNx. Itu menunjukkan bahwa virus flu burung mengalami perkembangan sangat cepat dan tergolong virus ganas. “Ini artinya virus yang beredar di sekitar kita bukan hanya H5N1. Jumlah 21 isolat yang kita dapatkan dari ternak unggas yang tampak sehat tadi berada di lingkungan peternakan dan semuanya adalah virus AI yang ganas,” beber Wayan.

Tingkatkan Biosekuriti

Wayan menjelaskan, pemberian vaksin untuk mencegah flu burung tidak menjamin suatu peternakan bisa bebas virus AI. Penyeberan virus flu burung dinilai kerap melalui kontak langsung sehingga perlu didukung dengan penerapan biosekuriti. “Hanya vaksinasi saja untuk mengatasi AI lumayan berat, maka bantulah dengan tindakan biosekuriti,” tutur pria kelahiran 1957 ini.

Dalam peternakan modern, sistem biosekuriti memiliki tiga unsur yaitu: isolasi, desinfeksi dan pengaturan lalu lintas. Isolasi adalah peternakan dikelilingi pagar. Desinfeksi adalah mandi untuk membasmian hama penyakit yang datang dari luar kandang. Dari kedua komponen ini, mandi memiliki peran penting. “Sembilan puluh persen kontaminan hilang dengan cara mandi. Sementara dengan cara desinfektan hanya sepuluh persen menghilangkan kontaminan,” tegas Wayan.

Dalam membasmi virus flu burung, mandi merupakan kewajiban yang harus dilakukan sebelum masuk ke wilayah peternakan. Sayangnya, baru di tingkat industri pembibitan yang mewajibkan mandi kepada setiap orang yang masuk ke kandang. Penerapan biosecurti pada industri pembibitan memang sangat ketat.

Sedangkan di tingkat budidaya peternak masih banyak yang belum menerapkan biosecuriti. “Biasanya bisosekurti baru diterapkan di tingkat breeding (perusahaan bibit). Ini menunjukkan bahwa pemahaman mereka tentang mandi memegang peran yang sangat penting,” jelas Wayan, yang pernah menjabat sebagai Dekan FKH IPB 2007-2011.

Secara umum, tanda-tanda ayam yang terkena AI adalah pada bagian pial (jengger) ayam berwarna biru dan bengkak, suhu tubuh ayam naik, ceker atau kaki ayam bewarna merah dan bengkak (seperti ada kerokan), terjadi pendarahan pada organ-organ dalam, dan sulit bernapas.

Sudah menjadi keharusan bagi peternak dalam mengetahui tanda-tanda atau gejala ayam yang terserang virus AI. Hal ini berguna untuk mencegah agar virus tidak menyebar ke peternakan lain. Lantas, langkah apa yang harus dilakukan peternak ketika menemukan gejala flu burung pada ternaknya?

Wayan mengatakan, dalam kondisi apapun selalu menyiapkan rapid test (kit uji), yaitu sebuah alat untuk mendeteksi virus AI. Selanjutnya, cairan tersebut diletakkan pada rapid test. “Jika terjadi dua garis berarti itu positif AI,” jelasnya. Ia menambahkan, ketika gejala flu burung muncul segera diperiksa sebelum empat hari. Karena kalau lewat dari empat hari, virus bisa menyebar ke seluruh unit perkandangan.

(Telah dibaharui dari situs: www.kompasiana.com/febronipurba)

Iklan

Tentang febroni

Jurnalis
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s