Catatan untuk Mentan (1)

12508753_10201491727932586_1980057784031283429_nTULISAN Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Kementan Suwandi di opini Kompas 1/2/2016) yang berjudul “Mempersenjatai Petani Indonesia Mengahdapi MEA” cukup menarik. Tulisan tersebut merupakan tanggapan atas opini Sofjan Sjaf (SS) berjudul “Perang Pangan” di harian yang sama (30/1/2016).

Adanya tulisan bertanggapan seperti itu menunjukkan suatu budaya intelektual yang baik. Pikiran dibalas lewat pikiran melalui media sebagai sarana mengemukakan pendapat. Namun, tanggapan Suwandi atas tulisan SS menjadi tidak menarik lantaran sebagian isinya agak bergeser menyerang urusan pribadi SS.

“….tulisan opini Saudara Sofyan Sjaf, yang saat ini tidak lagi bekerja sebagai staf ahli di salah satu ditjen di Kementan. Hal ini jangan sampai mengindikasikan adanya respon kekecewaan sehingga analisis yang diberikan tidak lagi bersandar pada data, tetapi lebih pada emosional belaka,” demikian Suwandi menutup tulisannya.

Tanpa bermaksud membela SS—yang saya sendiri tidak kenal dengan SS—mestinya Suwandi menghindari adanya kesan menyerang urusan pribadi. Dalam batas penalaran yang wajar, tudingan SS terhadap Mentan masih dalam koridor etis. SS yang juga berprofesi sebagai dosen Sosiologi Pedesaan IPB tentu mempunyai kapasitas mumpuni mengkritik pemerintah dalam hal ini kebijakan Menteri Pertanian Amran Sulaiman.

Lagi pula, kritikan SS terhadap Mentan yang menyebutnya “gagal paham” memang dapat kita suarakan ditengah harga pangan yang cenderung tinggi sejak pertengahan tahun lalu. Dan yang perlu ditegaskan adalah, tingginya harga pangan rupanya tidak membuat para petani kita makmur. Setinggi apapun harga pangan kita, kalau petani kita menguasai lahan sawah hanya 0,3 hektar, mustahil kehidupan petani Indonesia sejahtera.

Terkait tingginya harga pangan, upaya Mentan dalam mengedendalikan harga pangan terbukti gagal. Kementrian pertanian sering kali naif membaca fakta lapangan. Pemerintah hanya percaya data statistik yang sudah terbukti kurang valid. Data statistik pangan yang lemah merupakan salah satu penyebab gejolak pangan. Kementan terlalu percaya diri produksi jagung surplus, sehingga kebijkan pemerintah untuk impor selalu terlambat.

Padahal, fakta di lapangan harga jagung melonjak tajam selama lebih dari empat bulan. Sepanjang sejarah Indonesia, baru kali ini harga jagung melonjak tinggi mencapai Rp5.500 – Rp6.500 per kg pipilan kering. Demikian juga gejolak harga daging ayam, sejak akhir tahun 2015, dan memasuki tahun 2016, bahkan sampai menjalang Februari 2016, harga daging ayam berada di level Rp30.000 – Rp34.200 per ekor. Setelah peternak rakyat menejerit akibat kekurangan produksi jagung, barulah mentan membuka impor. Itu pun setelah perintah dari presiden kepada beberapa menteri beberapa hari lalu.

Jadi, kementrian pertanian mestinya dapat menerima dengan lapang dada setiap kritikan masyarakat. Apa yang ditulis SS di opini Kompas merupakan kritik yang tajam namun masih dalam batas penalaran yang wajar. Memang faktanya, saat ini program kementrian pertanian masih cenderung obyek belum sepenuhnya menyentuh petani itu sendiri. Sebagaimana kata SS, “Mentan melupakan kebutuhan akses petani terhadap teknologi pertanian dan jejaring.”

Sebagai masyarakat, kita tidak perlu tahu apa urusannya SS dengan Mentan. Bodoh amat soal itu! Tak perlu pula disebut pernah menjadi staf ahli di salah satu ditjen Kementan. Adalah lebih penting dan berguna mengomongkan mengenai substansi soal pertanian ketimbang urusan pribadi. Karena yang labih penting dari semua itu adalah bagaimana caranya supaya pertanian Indonesia maju!

Iklan

Tentang febroni

Jurnalis
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori dan tag , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s