Vincent: Bangga Menjadi Peternak Layer

MENJADI seorang peternak memang terkesan bau dan kotor lantaran bergelut dengan ternak dan kotoran. Namun Vincent melihatnya berbeda. Ia menilai bukan dari apa pekerjananya, tetapi bagaimana pekerjaan itu halal dan bisa menguntungkan. Meskipun telah mengecap pendidikan dari sekolah menengah pertama hingga perguruan tinggi di negeri Kangguru, Vincent bangga menjadi pengusaha ayam petelur di Tanah Air.

Tepat pukul sepuluh pagi, saya bersama dua orang rekan bergegas dari Surabaya menuju Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur, untuk menjumpai seorang peternak ayam petelur (layer), akhir Juli lalu. Panasnya terik matahari mengiringi perjalanan kami, menyusuri tanggul lumpur Lapindo, hingga ke lokasi dengan jarak tempuh 45 kilometer.
Salim Vincent, si peternak muda itu, rupanya telah bersiap menyambut kedatangan kami. Setibanya di lokasi, dia lekas meyalami kami satu demi satu. Saat itu, tampilan Vincent terlihat rapi. Penampilannya tidak seperti peternak yang pada umumnya saya jumpai. Ia menggenakan kemeja batik dan sepatu pantofel. Model rambutya undercut pendek, persis aktor Korea.
Suasana di dalam kandang closed house dan dilengkapi peralatan pemberiaan makanan otomatis (Dok. Pribadi).

Suasana di dalam kandang closed house dan dilengkapi peralatan pemberiaan makanan otomatis (Dok. Pribadi).

Kandang layer milik Vincent tidak pula seperti kandang pada umumnya. Kandangnya sudah menerapkan sistem kandang closed house. Kandang closed house adalah kandang tertutup. Bentuknya memanjang dan lebar, menyerupai barak pasukan militer. Kandang closed house ini dilengkapi dengan 2 buah kipas angin berdiameter 50 inci dan memakai sistem pendingin (cool pad). Jadi jangan heran kalau suhu di dalam kandang ini mencapai 20 derajat celcius. Tak ada bau. Tak ada lalat. Lebih dari dua jam lebih berwawancara dengannya di dalam kandag pun tak terasa saking nyaman dan sejuk.

Di dalam kandang itu, para layer dikurung di dalam “jeruji besi,” alias kandang baterai. Kandang baterai tersebut terbuat dari baja dengan tiga tingkat dan dilengkapi mesin pakan otomatis. Mesin tersebut akan bergerak otomatis 3-4 kali dalam sehari, dengan waktu yang sudah ditentukan untuk diberi makan. Adapun untuk air minum, kandang baterai ini sudah menggunakan nipple (putting). Jika nipple disentuh oleh paruh (mulut) ayam maka air keluar secara otomatis.
Vincent berdiri di atas "jeruji besi" alias kandang baterai ayam petelur. (Dok. Pribadi).

Vincent berdiri di atas “jeruji besi” alias kandang baterai ayam petelur. (Dok. Pribadi).

Vincent memperkerjakan sebanyak 8 orang karyawan yang terdiri dari 6 orang anak kandang, dan 2 orang di gudang pakan. Para anak kandang sesekali memasang musik dangdut di dalam kandang agar tidak jenuh bekerja. Musik juga diyakini dapat membuat ayam petelur lebih produktif. “Ada beragam jenis musik yang sering kita putar di kandang. Yang penting suaranya tidak terlalu kencang dan jangan terlalu dem-dem-dem. Kadang-kadang saya melihat para karyawan saya nyanyi-nyanyi sambil joget, biar mereka ga jenuh,” kata Vincent.

Pria berusia 24 tahun itu menceritakan pengalamannya ketika membangun bisnis peternakan layer. Tahun 2012, ia menyelesaikan sarjana marketing dari Universitas Curtin, Australia. Meski sempat ragu, ia memberanikan diri terjun ke dunia peternakan. Ia melihat bahwa peluang bisnis layer sangat menjanjikan. “Sebelumnya saya tidak pernah memikirkan akan terjun di bidang peternakan. Awalnya saya ragu-ragu,” katanya seraya tertawa kecil.
Dengan modal keberanian dan ilmu marketing, Vincent nekad membangun bisnis peternakan layer di Kecamatan Gempol. Namun dia mengakui bahwa biaya yang digunakan pada saat membangun bisnisnya berasal dari orang tua. Saat itu, keraguan pun muncul dari pihak orang tua Vincent. Di masa awal pemeliharaan layer, kira-kira selama 1,5 tahun, ayahnya masih meragukan usaha peternakan anaknya.
Meski demikian, dia yakin bisnisnya bisa berkembang. Saat ayam sudah masuk periode bertelur barulah sang ayah mendukung usahanya. “Ketika orang tua saya melihat ayam saya mulai bertelur, mereka malah suruh saya untuk terus mengembangkannya,” ujarnya.
Menurut perhitungannnya, permintaan telur di Gempol bisa mencapai 1 ton per hari. Sementara pria keturunan Tionghoa ini baru mampu menyediakan 750 kg telur per hari. Telur-telur tersebut dijual kepada agen telur di Gempol. Saat ini, Vincent telah bekerjasama dengan dua agen sebagai pelanggannya. Ia kadang-kadang sedikit bingung untuk membagikan “jatah” pasokan telurnya kepada dua agen tersebut. Kebingungannya pun berlajut ketika ia dihubungi oleh beberapa agen dari luar Gempol. “Saya pusing nih. Mau gimana ya, mereka minta tapi gak bisa (mencukupi). Masakan saya paksa ayamnya, lalu dielus-elus untuk ngeluarin telur,” ujar Vincent yang juga hoby menembak.
IMG_6206

Ayam ras petelur (layer) dipelihara di kandang baterai (Dok. Pribadi).

Saat ini Vincent memelihara layer sebanyak 31.000 ekor di dalam 2 kandang closed house. Dalam kandang yang pertama teradapt 14.000 ekor dengan produksi telur sebanyak 750 kg per hari. Sedang kadnang yang kedua terdapat 17.000 ekor yang masih berumur 16 minggu. “Yang 17.000 ekor ini akan memasuki periode bertelur dalam waktu 3 minggu lagi. Produksi telurnya bisa mencapai 900 kg per hari,” jelasnya.
Biaya untuk membangun bisnis peternakan modern tidaklah murah. Investasi membangun kandang closed house, kata dia, sebesar Rp 80.000 per ekor untuk layer. Maka untuk membuat 1 buah kandang closed house bisa mencapai miliaran rupiah. Belum lagi biaya membeli bibit ayam, pakan, vaksin, obat-obatan, peralatan, dll. Beruntung ia bisa mendapatkan pelayanan konsultasi dari salah satu perusahaan peralatan peternakan di Malang. Pelayanan yang ia dapat antara lain: menghitung campuran ransum pada pakan yang sesuai dengan umur ayam; pemberian vaksin; pasokan pakan; obat-obatan, dll.
Dalam waktu dekat, Vincent hendak memperbanyak kapasitas produksi telur guna memenuhi permintaan para agen telur. Dia ingin membangun 4 kandang lagi dengan kapasitas masing-masing sebanyak 17.000 ekor. Ia tak perlu repot mencari lahan sebab di lokasi kandangya sekarang masih sangat lapang, seluas 13 hektar. “Yang baru terpakai sekarang masih sekitar 5 persen. Masih cukup membangun 4 kandang lagi,” terang Vincent yang pernah bekerja di sebuah cafe di Australia.
Ketertarikan Vincent untuk memulai bisnis peternakan layer bermula atas saran pamannya. Namun pamanya bukanlah berlatar belakang peternakan melainkan seorang pengusaha sepatu. Sang paman rupanya punya relasi dengan para pengusaha yang bergerak di bidang peternakan sehingga Vincent dikenalkan dengan teman pamannya. Dari situ Vincent mulai tertarik, lalu pada tahun 2013 ia mengunjungi pameran peternakan terbesar di Indonesia bernama Indolivestock di Bali.
Di pameran itu, ia memperhatikan beragam peralatan peternakan mutakhir. Dari pameran Indolivestock itu, ia belajar bahwa bisnis peternakan bisa lebih menguntungkan jika menggunakan teknologi mutakhir—yang mampu meningkatkan efisiensi—seperti penggunaan kandang closed house, pakan otomatis, minum otomatis, pendingin ruangan, dll.
Vincent bukanlah berlatar belakang dari sekolah atau jurusan peternakan, bahkan ia juga sempat diragukan oleh orang tuanya sendiri, tetapi kini ia menjadi peternak muda yang sukes. Moto hidupnya adalah work hard, play hard. Dia bisa bekerja keras, dan juga bisa bermain ke manapun dan di manapun. Baru dua tahun ini bisnisnya berjalan, Vincent tak mau berleha-leha; ia fokus untuk memantapkan peternakannya. “Jika waktunya untuk bekerja, saya giat bekerja. Nanti ada waktunya untuk bermain,” ungkap Vincent yang pernah gagal berbisnis ternak lele.
Dia terus bertekun terhadap bidang peternakan yang saat ini digelutinya meski beberapa kerabat pernah menggunjingkan atas apa yang dilakoninya sekarang. “Kamu masih muda kok mau jadi peternak? Kamu kok mau bekerja di tempat yang banyak kotoran dan bau?” ucap Vincent menirukan gunjingan dari kerabatnya.
Meski sibuk mengembangkan bisnis layernya, Vincent masih sempat meluangkan waktu bagi tunangannya yang saat ini kuliah di salah satu perguruan tinggi di Surabaya. Ia tak ingin larut dalam kesibukan. Bersama tunangannya, tiap akhir pekan dimanfaatkan untuk sekadar jalan-jalan atau nonton. Sang kekasih rupanya juga berasal dari keluarga pengusaha tambak udang di Tarakan, Kalimantan Utara. Setelah kekasihnya lulus kuliah, Vincent hendak menikahinya. Lalu ingin mengembangkan peternakan layer di Kalimantan. “Ini bukan memanfaatkan pacara saya lho, tetapi ini adalah prospek bisnis. Kalau pacar saya ga mau, ya udah, gak pa pa,” pungkasnya.
Waktu menunjukkan pukul 14.00 waktu setempat, saya dengan teman-teman segera balik ke Surabaya, untuk melanjutkan perjalan pulang ke Jakarta.
Iklan

Tentang febroni

Jurnalis
Pos ini dipublikasikan di Profil dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s