Disnak Bogor, Perusahaan Bibit dan Peternak Bahas Harga Ayam

Perhimpunan Peternak Unggas Nusantara (PPUN) menyampaikan beberapa keluhan kepada Kadis Peternakan Bogor Siti Farikhah Siti Farikhah terkait anjloknya harga ayam hidup di Kantor Disnak Peternakan dan Pertanina Bogor, Jumat (11/9/2015). (Foto: Dok. Pribadi)

Perhimpunan Peternak Unggas Nusantara (PPUN) menyampaikan beberapa keluhan kepada Kadis Peternakan Bogor Siti Farikhah Siti Farikhah terkait anjloknya harga ayam hidup di Kantor Disnak Peternakan dan Pertanina Bogor, Jumat (11/9/2015). (Foto: Dok. Pribadi)

Harga ayam di tingkat peternak anjlok pada Jumat (11/9/2015), berada di posisi Rp.13.000 – Rp 13.500, setelah sehari sebelumnya di posisi Rp.15.000 – Rp 15.500. Keadaan ini membuat peternak di Bogor khawatir, usaha mereka terancam rugi berkepanjangan.

Menanggapi gejolak harga tersebut, Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor Siti Farikhah mengadakan pertemuan dengan Perhimpunan Peternak Unggas Nusantara (PPUN), perusahaan budidaya, dan GPPU di Kantor Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor (11/9).

Perusahaan-perusahaan besar diminta untuk tidak menekan harga jual ayam hidup. Sebelumnya, peternak menilai bahwa anjloknya harga ayam akibat beberapa perusahaan menurunkan harga ayam di bawah HPP peternak. “Saya berharap kepada bapak dan ibu yang hadir, membantu perbaikan harga broiler yang saat ini jatuh di angka Rp.13.000,” kata Ketua Umum PPUN Sigit Prabowo. Senada dengan itu, Sugeng salah satu peternak berharap kepada perwakilan dari perusahaan besar bisa bersama-sama menaikkan harga ayam hidup.

Hendra yang mewaikili PT Mitra Sarana Pakanindo (PT MSP) mengaku, perusahaan tempat ia bekerja mengalami kesulitan akibat fluktuasi harga. Sejumlah peternak menuding MSP adalah bagian dari PT Charoen Pokphand Indonesia, salah satu perusahaan perunggasan yang terbesar di dunia. Namun, Hendra menepis tudingan tersebut. “Kalau dibilang Pokhpand (PT Charoen Pokphand Indonesia), kita bukan Pokphand. Kita berdiri sendiri. Kapasitas populasi kami sekitar 500 ribu ekor per hari,” tuturnya.

Kepala Unit Farm PT Ciomas Adi Satwa (Japfa Grup) menjelaskan, bahwa pihaknya mengalami kesulitan harga. Ia mengaku kerap ditegur oleh atasannya karena jumlah produksi sedikit. “Kalau saya ke kantor, ditegur terus karena produksi sedikit sekitar 10.000 – 20.000 ekor per hari. Hal ini sangat wajar karena kebutuhan daging di Bogor sedikit,” kata Edy.

Anjloknya harga ayam hidup dinilai akibat kelebihan pasokan ayam umur sehari/day old chicken (DOC). Untuk mengurai masalah ini, Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Muladno telah menunjuk tim auditor dari SAI Global. SAI Global ditunjuk untuk melakukan verifikasi data bibit ayam yang diproduksi setiap perusahaan pembibitan.

Menurut informasi yang dihimpun Poultry Indonesia, Dirjen PKH Muladno membenarkan bahwa SAI Global telah melakukan verifikasi data bibit ayam di setiap kantor pusat perusahaan pembibitan dan farm (kandang). “Data bibit ayam ini nanti akan dipublikasikan melalui aplikasi berbasis internet (e-poultry). Tujuan pendataan ini untuk mengetahui produksi bibit DOC oleh setiap perusahaan, sehingga nanti dapat disesuaikan dengan kebutuhan,” ujar Muladno beberapa waktu lalu.

Dalam kesempatan itu, Eko Parwanto perwakilan dari Gabungan Perusahaan Pembibitan Unggas (GPPU) membenarkan bahwa seluruh perusahaan bibit akan dipanggil untuk menandatangani kesepakatan terhadap verifikasi data yang dilakukan oleh SAI Global. “Data yang dikeluarkan oleh SAI Global juga akan dibandingkan dengan data dari tim ad hoc dan principle,” tutur Eko.

Eko melanjutkan, pada tanggal 4 September 2015, Ditjen PKH menggelar pertemuan dengan GPPU. Pertemuan itu menyimpulkan dua hal. Pertama, pemerintah dalam hal ini Kementerian Perdagangan dihimbau untuk memanggil broker besar. Kedua, dua perusahaan besar PT Charoen Pokphand Indonesia dan PT Japfa Comfeed Indonesia diminta untuk menahan harga di posisi Rp.15.500.

Adapun 10 broker yang dimaksud adalah: Edi Kocang (Purbalingga), Tika (Tasikmalaya), Nirmala (Bandung), Riani (Tanggerang), Ari (Kalimalang), Mutus (Garut), Soni (Bandung), Koceng (Bandung), Asep (Bandung) dan Deni (Bandung).

Terkait masalah data, Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Bogor Siti Farikhah juga membenarkan bahwa data atau laporan usaha dari perusahan pembibitan maupun peternak sulit diperoleh. “Kita memerlukan pendataan yang berkelanjutan sebagai database untuk pemecahan masalah bila over supply dan sebaliknya,” jelasnya.

Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor Siti Farikhah (Foto: Dok. Pribadi)

Kepala Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Bogor Siti Farikhah (Foto: Dok. Pribadi)

Dalam pertemuan itu, Siti Farikhah akan menegur perusahaan yang tidak menghadiri undangannya. Selain itu, ia menginisiasi untuk membentuk komite gabungan perunggasan di Bogor. Komite ini nantinya terdiri dari pemerintah, asosiasi peternak, perusahaan budidaya, perusahaan pakan, dll. “Yang kita lakukan jangka pendek adalah kami akan panggil breeder-breeder besar yang tidak datang hari ini. Kita juga akan bentuk komite bersama perunggasan di Bogor supaya gampang berkoordinasi mengatasi gejolak harga,” tutupnya.

Iklan

Tentang febroni

Jurnalis
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s