GPMT Tunggu Persetujuan Impor Jagung

Kebijakan pemerintah untuk menghentikan impor jagung secara mendadak dinilai tidak tepat. Sampai saat ini, Kementrian Pertanian belum menerbitkan izin pemasukan bahan baku jagung yang akan berlabuh di Belawan, Medan, Sumatera Utara.

Kritik itu muncul dari Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) Desianto Budi Utomo, Rabu (5/8), di Jakarta. “GPMT sudah mendatangkan jagung dari luar negeri sebanyak 1,65 juta ton. Kapalnya sudah mau merapat di Medan,” ujar Desianto melalui sambungan telepon.

Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Muladno saat dikonfirmasi belum tahu kapan surat persetujuan pemasukan barang (SPP) itu diterbitkan. Sementara itu, kapal yang membawa 1,65 juta ton jagung sudah sepuluh hari berada di wilayah perairan Indonesia.

Akibatnya, pabrik harus menanggung biaya peti kemas (demurrage) miliaran rupiah atas tidak adanya kepastian bongkar. “Biaya yang ditangung pabrik pakan atas keterlambatan pengembalian demurrageselama 10 hari mencapai Rp 2 miliar,” beber Desianto.

GPMT telah mengirimkan surat kepada menteri pertanian untuk mengeluarkan izin masuk jagung yang masih tertahan di perairan. Desianto mengaku GPMT sedang menunggu agar izin SPP tersebut dikeluarkan. Desianto juga mengatakan, integritas kita sebagai pelaku bisnis ataupun sebagai bangsa dipertanyakan kredibilitasnya. “Kapal yang disewa sudah memiliki jadwal untuk bongkar muat ke negara lain, dan kembali negara asalnya,” katanya.

Penghentian impor jagung diduga lantaran produksi jagung dalam negeri melimpah. Menteri Pertanian Amran Sulaiman, dalam keterangan tertulisnya menyatakan, ekspor jagung Indonesia mencapai 400 ribu ton dan diharapkan mampu mencapai 700 ribu ton. Melimpahnya produksi jagung dalam negeri berasal dari daerah Sumbawa dan Dompu (NTB).

Meskipun jagung dari Dompu dan Sumbawa melimpah, lanjut Desianto, tetapi harganya tidak bersaing. Hal itu terlihat dari ongkos pengiriman jagung dari Dompu ke Surabaya mencapai Rp 400-Rp 450 per kilogram, sedangkan dari Dompu ke Jakarta biayanya Rp 500-Rp 550 per kilogram. Apalagi pabrik pakan di Kabupaten Nusa Tenggara Barat belum ada sehingga produksi jagung tidak diserap.

Menurut Desianto, pedagang (jagung) lebih melirik Filipina karena harga di sana lebih baik. “Dengan biaya pengiriman yang sama ke Surabaya, ya dijuallah ke Filipina. Namanya juga pedagang,” pungkasnya. Febroni.

Sumber: http://www.poultryindonesia.com/news/aktual/gpmt-tunggu-persetujuan-impor-jagung/

Iklan

Tentang febroni

Jurnalis
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s