Lima Strategi Revolusi Peternakan Ditjen PKH

Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) telah merancang program pemenuhan bahan pangan asal ternak dan agribisnis peternakan rakyat. Hal tersebut disampaikan Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Muladno dalam jumpa pers, Senin (3/8), di Gedung C, Ruang Rapat Utama I Ditjen PKH, Kementrian Pertanian, Jakarta.

“Untuk mencapai program tersebut, Ditjen PKH mengusung lima strategi yang dinamakan dengan revolusi peternakan Indonesia,” beber Muladno. Lima strategi revolusi peternakan tersebut, pertama, membangun bisnis kolektif berbasis rakyat untuk semua komoditas ternak. Kedua, melestarikan sumber daya alam dan kearifan lokal. Ketiga, mewujudkan peternak yang mandiri, berdaulat, dan bermartabat. Keempat, perbaikan mental manusia. Kelima, negara hadir bertindak dan melayani.

Muladno menilai, skala usaha peternak khususnya ternak sapi pada umumnya masih sangat kecil, mencapai satu hingga lima ekor. Untuk membuat menjadi skala besar, Ditjen PKH menggunakan pendekatan Sentra Peternakan Rakyat (SPR) 1111. Dengan bisnis kolektif ini, syaratnya adalah dalam satu kawasan memiliki minimal 1000 indukan sapi.

Pendekatan SPR 1111 juga berlaku untuk ternak lain seperti kambing, domba, dan ayam pedaging. “Kalau peternak membutuhkan ternak kambing, maka kambing yang diperkuat. Jangan sampai kami (pemerintah) ingin sapi perah, maka diberikan sapi perah,” terangnya.

Melalui program ini, pemerintah ingin mewujudkan peternak yang mandiri, berdaulat, serta bermartabat. Selama ini, menurut Muladno, program untuk peternak masih bersifat bantuan sosial. “Bantuan sosial tidak efektif dan malah menjadikan banyak peternak proposal. Akhirnya, banyak peternak yang pintar hanya membuat proposal,” jelasnya. Diberi hari ini, kata Muladno, dua hari kemudian ternaknya dijual.

Revolusi peternakan Indonesia juga termasuk memperbaiki mental manusia. Pengusaha, peternak, pemerintah, dan konsumen adalah bagian dari strategi revolusi peternakan. Muladno mengakui bahwa pemerintah termasuk dirinya berkewajiban melayani peternak. “Bukan pemerintah yang dilayani,” tegasnya. Memperbaiki mental konsumen dalam konteks peternakan adalah mengubah cara berpikir konsumen yang selama ini enggan mengkonsumsi daging beku.

Revolusi peternakan yang terkahir ialah negara hadir bertindak dan melayani. Selama ini, sektor perunggasan nyaris tanpa sentuhan negara. Ini membuat peternak rakyat banyak gulung tikar akibat penghitungan produksi ayam umur sehari (DOC) yang berantakan. Pemerintah dalam hal ini Diitjen PKH berjanji akan mengatur data jumlah produksi atau impor indukan ayam pedaging.

“Masalah perunggasan ini beda dari sapi. Kalau dulu masih impor parent stock (PS), sekarang sudah impor great grand parent stock (GGPS). Akhinya mengalami kelebihan pasokan final stock (FS),” tutur Muladno. Kalau begini, maka cukup impor great parent stock (GPS)  saja. “Bolpoin (pulpen) jelek saya ini bisa menyetop itu (GGPS), pungkasnya sambil menunjukan pulpen. Febroni.

Sumber:

http://www.poultryindonesia.com/news/aktual/lima-strategi-revolusi-peternakan-ditjen-pkh/

Iklan

Tentang febroni

Jurnalis
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

2 Balasan ke Lima Strategi Revolusi Peternakan Ditjen PKH

  1. Anonim berkata:

    pembangunan peternankan Indonesia tidak mudah seperti yang diharapkan, mulai dari lahan, modal, bibit ternak, pakan, teknoklogi dan pemasaran. eternak umumnya bergerak sendiri sesuai kemamuan yang dimiliki tana banyak camur tangan ihak emerintah. Apalagi jika pejabatnya hanyalah bangga dengan kekuasaan saja tetapi tidak memiliki kapabilitas, lebih parah lagi jika pejabatnya tidak pernah bersentuhan dengan peternak atau masyarakat tentang masalah yang mereka hadapi.

    Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s