Daging Olahan Asal Malaysia Menyerbu Pasar Indonesia

Foto dari kiri: Ishana Mahisa, Abdul Rochim, Donatus Hartono, Haniwar Syarif

Foto dari kiri: Ishana Mahisa, Abdul Rochim, Donatus Hartono, Haniwar Syarif

Industri pengolahan daging di Indonesia dipastikan terancam akibat serbuan daging olahan impor. Salah satu penyebabnya diduga akibat peraturan pemerintah yang mengizinkan olahan daging dari luar negeri masuk ke Indonesia dengan pertimbangan tertentu.

Hal itu mengemuka dalam konferensi pers tentang ancaman yang dihadapi produk olahan daging dari serbuan impor di Kementrian Perindustrian, Jakarta, Rabu (8/7). Jumpa pers itu dihadiri oleh Ketua Asosiasi Industri Pengolahan Daging Indonesia (NAMPA) Ishana Mahisa, Direktur Pengolahan Makanan Kementrian Perindustrian Abdul Rochim, Sekjen NAMPA Donatus Hartono, dan Direktur Eksekutif NAMPA Haniwar Syarif.

Ishana mengatakan, telah terjadi peningkatan signifikan impor daging olahan mulai dari tahun 2012. Berdasarkan data BPS, kelompok HS 1601 (sosis dan olahan daging lainnya) mengalami peningkatan hampir 18 kali dari tahun 2012 sampai tahun 2014. Kelompok HS 1602 olahan daging lain di luar sosis juga mengalami kenaikan sebanyak 45 persen.

Secara rinci, kelompok HS 1601 tahun 2012 bernilai USD 305.612 naik menjadi USD 4.521.997 tahun 2013. Tahun 2014 melompat lagi menjadi USD 5.559.16. kelompok HS 1602 tahun 2012 senilai USD 9.885.078 naik menjadi USD 12.631.000 tahun 2013. Tahun 2014 naik kembali sebesar USD 14.242.060.

Sementara itu, menurut Ishana peraturan pemerintah yang memicu impor daging olahan adalah Peraturan Menteri Pertanian No. 84 Tahun 2013 Pasal 9, yang menyebutkan bahwa produk olahan yang menggunakan bahan baku berasal dari negara belum bebas Penyakit Mulu Kuku (PMK), Vescular Stomatis (VS), Swine Vesicular Desease (SVD), dapat dipertimbangkan diimpor jika telah dipanaskan lebih dari 80°C selama 2-3 menit dan berasal dari daging ruminansia yang telah dilayukan, sehingga pH daging di bawah 5,9 dan dipisahkan linfoglandula (deglanded) dan tulangnya (deboned). “Jiwa dari Permentan inilah yang mendorong para importir dari Malaysia bisa memasukkan produknya ke Indonesia,” ujarnya.

Berdasarkan data BPS (2014), lebih dari 80 persen total impor daging olahan (sosis, burger, naget) berasal dari Negeri Jiran Malaysia. Di Malaysia, harga daging olahan jauh lebih murah ketimbang harga di Indonesia. Harga sosis impor asal Malaysia hanya sebesar Rp 29.770. Sementara harga sosis di Indonesia selangit, mencapai Rp 60.000 per kg. “Tentu dalam hal ini (harga), Indonesia kalah saing dengan Malaysia,” kata Ishana.

Kemampuan Malaysia dalam meningkatkan efisiensi produk dagin olahan bukan tanpa sebab. Harga bahan baku yang dibutuhkan oleh industri di Malaysia dapat diimpor dari India yang harganya jauh lebih murah ketimbang dari Australia. Harga daging sapi dari India sekitar Rp 30.000 per kg sedangkan daging sapi dari Australia di atas Rp 60.000 per kg.

Pemerintah melarang impor daging sapi asal India karena di negara tersebut belum bebas Penyakit Mulut dan Kuku (PMK). Namun, menurut Haniwar Syarif, jika daging sudah melalui proses pengolahan yang baik maka cemaran penyakit PMK dapat dihindari.

Defisit MDM ayam

Pemerintah Malaysia sendiri dapat mengimpor MDM (Mechanically Deboned Meat) ayam jika produk MDM ayam dalam negeri tidak mencukupi. Berbanding terbalik dengan itu, di Indonesia impor MDM ayam dari luar negeri dilarang oleh pemerintah. Sementara kebutuhan MDM ayam bagi industri dalam negeri dipenuhi dari pasokan dalam negeri melalui nota kesepahaman antara NAMPA dengan konsorium tiga perusahaan peternakan ayam terintegrasi, yaitu: PT Charoen Pokphand Indonesia, PT. Sierad Produce dan PT. Japfa Group.

Sementara itu, produksi MDM ayam dalam negeri tidak mampu memenuhi permintaan industri pengolahan. Hasil survei yang dilakukan oleh PT Sucofindo menunjukkan bahwa tahun 2012 produksi MDM ayam sebesar 754 ton dengan kebutuhan 1.194 ton (defisit 440 ton). Tahun 2013 produksi MDM ayam sebesar 2.094 ton dengan kebutuhan 2.911 ton (defisit 817 ton). Tahun 2014 hanya memproduksi sebanyak 3.291 ton dari kebutuhan sebanyak 4.212 ton (defisit 921 ton).

Berdasarkan data tersebut, Menteri Perindustrian Saleh Husin telah melayangkan surat kepada Menteri Pertanian tanggal 1 April 2015 perihal penyediaan bahan baku daging ayam bagi industri dalam negeri. Dalam surat tersebut berisikan bahwa Peraturan Menteri Pertanian No.50/Permentan/OT.140/9/2011 tentang Rekomendasi Persetujuan Pemasukan Karkas, Daging, Jeroan dan/atau Olahannya ke Dalam Wilayah Negara Republik Indonesia, impor MDM ayam tidak diizinkan karena tidak termasuk dalam daftar barang yang boleh diimpor.

Surat Menteri Perindustrian tersebut dalam rangka amanah Undang-Undang No. 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian, terutama dalam hal pemberian jaminan ketersedian bahan baku bagi industri dalam negeri, sekaligus menindaklanjuti surat dari NAMPA kepada Kementrian Perindustrian terkait pengadaan bahan baku daging ayam. Direktur Industri Makanan, Hasil Laut, dan Perikanan Kementrian Perindustrian Abdul Rochim mengaku telah berkoordinasi dengan kementrian terkait.

“Selama ini asosiasi pengolahan daging sudah menyampaikan persoalan dalam indsustri pengolahan daging baik itu dari penyediaan bahan bahi dan pasar,” ujarnya. Kementrian perindustrian, kata Abdul, sudah beberapa kali berkoordinasi dengan Kementrian Pertanian, Kementrian Koordinator Bidang Perekonomian, Kementrian Perdagangan, dan Badan POM. Febroni.

Sumber: http://www.poultryindonesia.com/news/daging-olahan-asal-malaysia-menyerbu-pasar-indonesia/

Iklan

Tentang febroni

Jurnalis
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s