Penataan Perunggasan Nasional Mendesak*

Sudah saatnya industri perunggasan nasional memiliki grand design yang mendukung potensi perunggasan. Sejak tahun 70-an, peran pemerintah dalam mendukung perunggasan dinilai masih kurang.

Hal di atas mengemuka dalam acara Indonesian Poultry Club (IPC) dengan tema “Grand Design Industri Perunggasan Nasional Mendesak” di Jakarta, Selasa (24/2). Diskusi ini diadakan dalam rangka membenahi persoalan perunggasan dalam negeri mengenai penataan pasokan ayam umur sehari/day old chicken (DOC). Selain itu, diskusi juga membahas tantangan perunggasan nasional menghadapi MEA dan Brasil.

Ketua Federasi Masyarakat Perunggasan Indonesia (FMPI) Don P. Utoyo menuturkan Indonesia akan menghadapi ancaman produk unggas dari luar negeri seperti ASEAN dan Brasil. “Grand design diperlukan dalam rangka mendukung pengembangan sistem dan usaha agribisnis dari hulu (on farm) hingga hilir (of farm),” kata Don Utoyo.

Seperti diberitakan sebelumnya, perusahaan perunggasan Brasil BRF SA telah menandatangani nota kesepahaman dengan PT. Indofood Sukses Makmur, Tbk., pada pertengahan Desember tahun lalu. Kerjasama ini dinilai akan mengganggu industri perunggasan nasional lantaran produksi dalam negeri yang berlimpah. Persoalan ini semakin terhambat sebab pasokan DOC yang berlebih belum kunjung dibenahi.

Peternak broiler asal Bogor Sugeng Wahyudi mengemukakan bahwa tahun 2015 produksi DOC sebanyak 64 juta per minggu. Padahal, kebutuhan DOC tahun 2015 menurut tim Ad Hoc yang dibentuk oleh FMPI hanya 47 juta ekor per minggu. Artinya, terjadi kelebihan DOC sebanyak 17 juta per minggu.

Menanggapi hal tersebut, Direktur Bahan Pokok dan Barang Strategis Kementerian Perdagangan Robert James Bintaryo mengakui pihaknya telah menyiapkan Peraturan Kementerian Perdagangan Tentang Keseimbangan Pasar Ayam Ras. Permendag ini nantinya mengatur pengendalian impor grand parent stock (GPS) sehingga pasokan DOC bisa dikendalikan. “Draft Permendag ini sudah selesai dan pekan depan akan dibahas di rapat kabinet,” terang Robert.

Sementara itu, Direktur Budidaya Ternak Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Fauzi Luthan menyampaikan bahwa pihaknya telah berkoordinasi dengan Kementerian Perdagangan dalam pengaturan penataaan keseimbangan pasar ayam ras.

Terkait masalah kelebihan pasokan DOC, Ketua Himpunan Ilmuwan Peternakan Indonesia Prof. Muladno mengungkapkan bahwa pemerintah mestinya mampu mengontrol indukan penghasil DOC FS, mengontrol usaha penggemukan, dan kontrol panen dan pemasaran. “Sebenarnya mudah memprediksi pasokan DOC karena jumlah perusahaan GGPS hanya sedikit,” tandas Muladno.

Prof. Bungaran Saragih turut hadir dalam IPC menjelaskan grand design diperlukan untuk mendukung potensi permintaan dalam negeri terhadap ayam. “Waktu di masa saya, konsumsi ayam masih sekitar 4 kg/kapita/tahun. Sekarang sudah 11 kg/kapita/tahun. Dengan pendapatan masyarakat yang semakin meningkat maka saya yakin 25 tahun lagi konsumsi ayam meningkat hingga 40 kg/kapita/tahun,” ujar Bungaran yang juga mantan Menteri Pertanian Kabinet Gotong Royong periode 2001-2004.

Dalam grand design yang akan dibuat, Wakil Ketua Umum Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Rachmat Pambudy mengusulkan agar komoditas daging ayam dan telur menjadi komoditas politik atau strategis. Di lain pihak, Ketua Asosiasi Rumah Potong Hewan Unggas Indonesia (ARPHUIN) Achmad Dawami menilai syarat koordinator yang tepat dalam membuat grand design yaitu akademisi, memiliki komunikasi yang baik dengan pemerintah dan swasta, dan punya waktu.

Kepentingan bersama

Dalam mengorganisir penataan perunggasan nasional diperlukan kerjasama oleh semua pemangku kepentingan. Sekjen Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) Desianto Budi Utomo mengatakan kita semua harus telanjang untuk menilai diri masing-masing demi kepentingan nasional. “Artinya, jangan ada yang mementingkan kelompok, asosiasi, institusi, atau perusahaan, karena perunggasan adalah mata pencaharian kita semua,” tutur Desianto.

Menurut Bungaran, industri besar harus bisa menjaga agar peternak kecil tidak mati. Sebaliknya, jelas Bungaran, peternak kecil jangan pula menolak kehadiran industri besar. “Penerapan kemitraan inti plasma yang selama ini berjalan baik harus bisa saling mendukung dan menguntungkan,” ujar pria kelahiran Sidamanik, Pematang Siantar.

*Majalah Poultry Indonesia Edisi Maret 2015

P_20150310_114512

Iklan

Tentang febroni

Jurnalis
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s