Antisipasi Ancaman Produk Unggas Luar Negeri*

Nasib peternak rakyat berada diujung tanduk lantaran ancaman impor produk ayam olahan dari luar negeri dan kelebihan pasokan ayam dalam negeri. Di tengah deru persoalan ini pemerintah harus melindungi usaha peternakan rakyat.

Kementrian Pertanian berjanji akan melindungi peternak rakyat dari ancaman produk unggas luar negeri dan membenahi pasokan ayam umur sehari (DOC/day old chick). Hal ini diungkapkan Direktur Perbibitan Ternak, Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementrian Pertanian RI, Abu Bakar, dalam sarasehan nasional : “Ancaman Produk Unggas Luar Negeri Terhadap Keberlangsungan Peternakan Rakyat” di Bogor, Jawa Barat, Rabu (11/2).

Sarasehan nasional ini diselenggarakan oleh Perhimpunan Peternak Unggas Nasional (PPUN), Perhimpunan Insan Perunggasan Rakyat (PINSAR) Indonesia, dan Majalah Poultry Indonesia. Pembicara yang hadir dalam acara ini yaitu Kepala Badan Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Perdagangan Ir. Tjahya Widayanti, M.Sc, Ketua Serikat Petani Indonesia Drs. H. Henry Saragih, serta Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Sarjana Peternakan Indonesia Prof. Dr. Ir. Ali Agus, DAA., DEA.

Sebelumnya, perusahaan perunggasan terbesar dari Brasil, BRF SA telah menggandeng PT. Indofood Sukses Makmur, Tbk., untuk memasarkan produk pangan olahan berbasis unggas. Kerjasama ini telah disepakati sejak tanggal 19 Desember 2014 dengan total investasi sebesar 200 juta dolar atau Rp 2,5 triliun.

Kerjasama kedua perusahaan tersebut adalah dampak dari perdagangan bebas di mana Indonesia merupakan anggota Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) sejak tahun 1995. Indonesia resmi menjadi anggota WTO melalui ratifikasi Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1994 tentang Ratifikasi Pembentukan WTO. WTO adalah organisasi yang mengatur perdagangan dunia dengan menuntut negara anggotanya membuka pasar secara luas melalui penghapusan berbagai hambatan dalam perdagangan.

“Indonesia termasuk negara yg paling awal meratifikasi menjadi anggota WTO. Pada waktu itu banyak kalangan petani tidak mengerti apa isi perjanjian perdagangan bebas. Menurut pendapat banyak kalangan, yang membuat isi persyaratan perdagangan itu adalah pihak-pihak tertentu yang ingin memperluas perdagangannya di luar negeri,” tegas Henry pada saat sesi kedua sarasehan nasional.

Nasib perunggasan nasional

Jika produk ayam olahan dari Brasil masuk ke pasar Indonesia dipastikan akan berdampak serius bagi masa depan perunggasan nasional. Pasalnya, tanpa ancaman dari luar saja sebagian besar peternak unggas di Indonesia sudah merugi. Tahun 2014 industri perunggasan nasional mengalami kerugian besar diperkirakan mencapai Rp.7,5 triliun. Kerugian terjadi akibat kelebihan pasokan DOC yang berdampat terhadap kelebihan pasokan daging ayam sekitar 4-7 juta ekor/minggu.

Ketua Umum PPUN Sigit Prabowo mengungkapkan kerugian diderita peternak dan perusahaan pembibitan unggas akibat pasokan ayam dan telur di pasar jauh melebihi kebutuhan. “Ketidakseimbangan supply dan demand itu mengakibatkan jatuhnya harga ayam dan telur hampir merata di seluruh wilayah Indonesia,” kata Sigit dalam pidato pembukaan saraehan nasional.

Tahun 2015 pasokan DOC diprediksi mengalami nasib serupa dengan tahun lalu. Sigit mengatakan tim Ad Hoc telah menghitung bahwa tahun 2015 produksi DOC mencapai 3,33 miliar ekor/tahun atau 64 juta ekor/minggu. Padahal, menurut Sigit kebutuhan DOC tahun 2015 diperkirakan mencapai 2,41 miliar ekor/tahun atau 47 juta ekor/minggu. “Bakal terjadi kelebihan DOC broiler nasional sebanyak 890 juta ekor/tahun atau 17 juta ekor/minggu,” kata Sigit.

Mengenai kelebihan pasokan DOC, Kementrian Pertanian berencana melakukan pemotongan produksi DOC dengan cara melakukan afkir dini. “Kita akan mengajak perusahan pembibitan untuk mengurangi DOC dengan melakukan afkir dini,” terang Abu Bakar pada saat sesi pertama sarasehan nasional. Di lain pihak, Kementrian Perdagangan dalam waktu dekat bakal mengeluarkan peraturan kementrian perdagangan (Permendag) tentang Keseimbangan Pasar Ayam Ras. “Permendag ini nantinya mengatur pengendalian impor Grand Parent Stock (GPS),” ujar Direktur Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Srie Agustine di sela acara rapat kerja Kementrian Perdagangan pada Januari lalu.

Jumlah peternak menurun

Selain masalah ancaman produk luar negeri dan kelebihan pasokan DOC, persoalan yang memprihatinkan lainnya adalah menurunnya jumlah peternak unggas dalam kurun waktu sepuluh tahun. Padahal sektor peternakan berbasis unggas diperkirakan mampu memberikan lapangan pekerjaan bagi 80 ribu peternak yang tersebar di seluruh Indonesia.

Henry mengutip data BPS (2013) menyebutkan jumlah rumah tangga usaha ayam ras pedaging pada tahun 2013 sebanyak 6,6 juta rumah tangga, turun sebanyak 54,10 persen dari tahun 2003. Jumlah rumah tangga usaha ayam ras petelur pada tahun 2013 sebanyak 29,9 ribu rumah tangga, turun 59 persen dari tahun 2003. Penurunan ini juga terjadi pada peternak ayam lokal. Jumlah rumah tangga usaha ayam lokal pada tahun 2013 sebanyak 6,6 juta rumah tangga, turun 54 persen dari tahun 2003.

Sebaliknya, perusahaan yang bergerak di bidang pertanian bertambah dalam kurun waktu sepuluh tahun. “Dari 4.011 perusahaan pertanian per tahun 2003 naik menjadi 5.486 perusahaan pertanian per tahun 2013,” kata Henry.

Proyeksi bisnis pakan unggas tahun 2015 cenderung baik dilihat dari tren pertumbuhan industri pakan dari tahun ke tahun. Tahun 2012 jumlah pabrik pakan di Indonesia hanya 68 pabrik dengan kapasitas 16,5 MT/tahun. Tahun 2014 mengalami peningkatan menjadi 82 pabrik berkapasitas 20 juta MT/tahun.

Melihat data di atas pertumbuhan industri perunggasan secara makro memang meningkat. Namun di tingkat mikro sektor perunggasan ini cenderung menurun. Padahal peran peternakan sangat penting bagi keceradasan masyarakat. Ali Agus menuturkan peran peternakan adalah mencerdaskan bangsa dan kesejahteraan masyarakat dan menghasilkan pangan berkualitas bagi generasi sehat cerdas dan kuat.

Faktanya, bisnis perunggasan nasional menimbulkan kesan tidak sehat. Ali Agus mengakui kondisi perunggasan saat ini memunculkan persaingan yg sangat kejam dan mengalami fluktuasi harga.

Melindungi peternak

Lantas bagaimana melindungi peternakan rakyat dari keadaan sulit seperti ini? Ali Agus menilai agar negara atau pemerintah harus hadir untuk menjaga keseimbangan supply-demand, mengatur tata niaga yang fair, melindungi pelaku usaha yang lemah (peternak kecil/mandiri), memfasilitasi pelaku usaha yang kuat masuk pasar luar negeri dan membentengi pasar dalam negeri dari ancaman produk impor.

Perlindungan terhadap produk hewan impor sudah diatur dalam undang-undang (UU) No. 41 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas UU No. 18 Tahun 2019 Tentang Peternakan dan Kesehaan Hewan. Menurut Abu Bakar, dalam Pasal 36 (b) ayat (1) disebutkan bahwa pemasukan ternak dan produk hewan dari luar negeri ke dalam wilayah NKRI dilakukan apabila produksi dan pasokan ternak dan produk hewan di dalam negeri belum mencukupi.

Pelaku usaha, lanjut Ali Agus, harus berupaya meningkatkan efisiensi usaha, meningkatkan kualitas produk, meningkatkan profesionalisme, mengadopsi updated-technology (housing, processing), serta memperkuat jaringan usaha (hulu-hilir). “Menyelamatkan peternak rakyat perlu membangun kelembagaan yang kokoh dalam bentuk informasi atau data yang fair, actual dan acurate (Business intelligent), dan sinergi koperasi pelaku usaha hulu-hilir,” kata Ali Agus yang juga dekan Fakultas Peternakan Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Tjahya Widayanti mengakui pihaknya sudah membuat Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 46 Tahun 2013 tentang Ketentuan Impor dan Ekspor Hewan dan Produk Hewan. Dalam aturan itu disebutkan, impor hewan dapat dilakukan untuk meningkatkan mutu dan keragaman genetik, mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, mengatasi kekurangan benih, bibit dan/atau bakalan/ternak potong di dalam negeri dan/atau memenuhi keperluan penelitian dan pengembangan.

Sementara itu, Abu Bakar menjelaskan bahwa Kementrian Pertanian sudah membuat regulasi untuk melindungi peternakan rakyat melalui Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. Dalam Pasal 58 ayat (4) dibilang, produk hewan yang diproduksi di dan/atau dimasukkan ke wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia untuk diedarkan wajib disertai sertifikat veteriner dan sertifikat halal bagi produk hewan yang dipersyaratkan.

Dalam kesempatan ini, penasihat Gabungan Perusahaan Makanan Ternak (GPMT) Budiarto Soebijanto mengatakan peraturan impor mengenai perlindungan produk peternakan harus diperkuat dan dipertahankan. Ia menilai Peraturan Menteri Pertanian Nomor 84 Tahun 2013 mengenai aturan halal seluruh produk hewan harus disertifikasi halal sudah baik. Namun, Budiarto mempertanyakan mengapa Permentan Nomor 139 Tahun 2014 menghilangkan Pasal 11 ayat (1) poin (d): “Mempunyai juru sembelih halal bagi yang dipersyaratkan, dan disupervisi oleh Lembaga Sertifikasi Halal yang diakui dan bekerjasama dengan Lembaga Pengkajian Pangan, Obat, dan Kosmetik (LP-POM) MUI.”

Dalam sarasehan ini, Henry Saragih menegaskan bahwa meskipun Indonesia surplus ayam namun konsumsi masyarakat terhadap daging ayam masih rendah dibandingkan Malaysia, Vietnam, Brunei, dll. Berdasarkan data organisasi pangan dunia (FAO), konsumsi daging ayam orang Indonesia hanya 7,6 kg/kapita/tahun. Bandingkan dengan konsumsi daging ayam orang Brunei Darussalam sebanyak 62,5 kg/kapita/tahun, Malaysia sebesar 38,1 kg/kapita/tahun, Vietnam 15,6 kg/kapita/tahun, Thailand 12,3 kg/kapita/tahun, dan Filipina 11 kg/kapita/tahun.

Dalam sarasehan nasional ini PPUN mengadakan peringatan Hari Ulang Tahun PPUN Ke-14. PPUN dibentuk pada tahun 2001 diketuai oleh Tri Hardianto. Dalam kesempatan ini, Sigit mengundang mantan ketua PPUN sebelumnya yaitu Tri Hardianto dan Anas Sudjatmiko untuk dibagikan kue ulang tahun. Tri dan Anas merasa bahagia karena kiprah PPUN masih tetap eksis dalam membangun dunia perunggasan nasional.

Jpeg

Iklan

Tentang febroni

Jurnalis
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s