Dari Programer Jadi Peternak

Wiwot

Doc. Wiwot

Panggil saja Wiwot, dengan nama lengkap Muhammad Wiwot Fahmi (40). Sarjana Komputer ini, kini menjadi peternak itik petelur di Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Populasi itik milik Wiwot sekitar 20.000 ekor di mana 18.000 ekor dipelihara intensif di kandang dan 2.000 ekor lagi di sawah.

 Usaha yang digeluti Wiwot dirintis sejak tahun 2008. Meski terbilang relatif singkat, usaha Wiwot dalam mengembangkan kapasitas populasi itik tergolong sukses. Semula kandang yang didirikan Wiwot hanya di Kecamatan Plawad, namun pada tahun 2012 Wiwot membangun lagi kandang di Kecamatan Belendung berkapasitas 7.000 ekor. Bahkan suami dari Erna Mardiana ini berencana menambah satu unit kandang dengan kapasitas 500 ekor itik.

SONY DSC

Bisnis Itik masih menjanjikan (Doc. Pribadi)

Rata-rata produksi telur itik yang dihasilkan dari kandang Wiwot mencapai 13.000 butir telur per hari. Maka tak heran bisnisnya ini bisa meraup untung sebesar Rp 4 juta per hari. Ribuan telur yang diproduksi dari kandang ternyata belum mampu memenuhi permintaan dari salah seorang pengusaha telur asin di Kabupaten Karawang. Wiwot mengatakan bahwa telur itiknya diolah menjadi telur asin untuk dipasarkan ke seluruh daerah di Indonesia hingga ke luar negeri seperti Singapura dan Belanda.

Selama kurang lebih enam tahun usahanya berjalan, Wiwot mengalami pasang surut. Tahun 2014, bisnisnya sempat mengalami kemandekan selama satu bulan lantaran harga telur di pasar turun. Tak mau lengah dengan keadaan, ayah tiga anak ini, terus bertekad bangkit.

Sistem intensif kunci keberhasilan

Bagaimana Wiwot mampu mengembangkan usaha beternak itik hingga sukses seperti sekarang ini? Wiwot menceritakan pengalaman saat pertama kali memulai usahanya tahun 2008. Kala itu ia menjadi bahan tertawaan bagi beberapa orang dan dianggap aneh karena membangun kandang khusus dan diberi pakan komersial. Maklum saja pada waktu itu petani hanya memelihara itik seadanya di area persawahan tanpa ada manajemen intensif.

SONY DSC

Wiwot memantau proses pembuatan kandang baru

Wiwot beternak itik secara intensif dan yang lain hanya ekstensif. Inilah yang membedakan Wiwot dengan peternak itik yang lainnya. Wiwot pun mengakui bahwa ada perbedaan yang besar antara pemeliharaan intensif dengan semi intensif dan ekstensif. Dengan modal pengetahuan yang dimilikinya, Wiwot mampu menghitung hasil produksi telur yang dihasilkan itik dengan pola sistem intensif.

Bagi Wiwot pantang menggembalakan itik apabila sedang masa bertelur. Itik yang digembalakan di sawah akan menguras banyak energi sehingga mempengaruhi produktivitasnya. Sebaliknya, itik yang diintesifkan dalam kandang akan memproduksi telur dengan maksimal. Menurut Wiwot hal inilah yang tidak diperhatikan oleh para petani/peternak. “Petani mengira itik yang digembalakan di sawah tidak perlu diberi pakan dari komersial,” tuturnya.

Dari sudut ilmu nutrisi ternak, gabah padi tidak sepenuhnya dapat diandalkan untuk meningkatkan produktivitas telur. Itik perlu diberi asupan nutrisi lain seperti protein dan kalsium yang didapat dari pakan komersial. Kendati harga pakan konsentrat relatif mahal, tetapi Wiwot menginginkan produksi telur yang efisien.

Ada sekitar 2.000 ekor itik milik Wiwot yang digembalakan di sawah. Hal ini dilakukan karena itiknya sedang dalam periode rontok bulu (molting). Periode rontok bulu adalah proses alamiah yang terjadi pada itik, di mana itik berhenti bertelur selama 3 minggu sampai 1 bulan. Untuk mengurangi biaya pakan komersial, Wiwot menyiasatinya dengan melepaskan itik rontok bulu tersebut ke area persawahan. Gabah padi yang tercecer dapat dimanfaatkan sebagai pengganti pakan komersial.

Pada umumnya bisnis perunggasan di Pulau Jawa masih didominasi oleh peternakan broiler. Namun bagi Wiwot belum memikirkan untuk melebarkan sayap bisnisnya beternak broiler karena menurutnya usaha itik ini masih berpotensi berkembang. Bahkan Wiwot mendorong agar ada pengusaha yang mau melirik dan memulai bisnis yang digelutinya dengan alasan masih kurangnya permintaan telur itik.

Meskipun terbilang sukses, Wiwot ingin membantu masyarakat di daerah usahanya yang notabene adalah petani. Petani di Indonesia umumnya masih banyak yang belum sejahtera. Pernah suatu kali Dinas Pertanian, Kehutanan, Perkebunan, dan Peternakan Kabupaten Karawang memintanya untuk memberikan penyuluhan sekaligus praktik kepada petani di Kabupaten Karawang. Tak hanya berbagai ilmu, Wiwot juga berkenan memberikan bantuan itik sebanyak 500-700 ekor untuk dipelihara oleh petani. Namun petani harus menyediakan lokasi dan kandang untuk dipelihara secara intensif. Jika itiknya sudah bertelur maka akan diambil dan dipasarkan oleh Wiwot. Sejauh ini telur itik dipasarkan kepada pengusaha telur asin dengan harga Rp.1.700 per butir.

Menurut perhitungan Wiwot, itik dapat ditambah jika 60-70 persen dari total itik yang dipelihara sudah bertelur. “Beberapa petani sering keliru. Penambahan itik dilakukan sebelum 60 persen itik yang bertelur,” jelasnya. Enam puluh persen dari total 500 ekor itik berjumlah 300 butir telur. Dengan harga telur Rp.1.700 maka rupiah yang diperoleh sebesar Rp.510.000.  Sementara dengan jumlah 500 ekor itik, lanjut Wiwot, membutuhkan 75 kg pakan per hari. Harga pakan komersial itik saat ini Rp.45.000 per kg. Jika dikalikan harga pakan maka hasilnya mencapai Rp.327.500. Hasil dari selisih antara penjualan telur dengan biaya pakan adalah sebesar Rp.182.500, alias tidak rugi.

Telur itik yang siap di pasarkan

13.000 butir telur itik per hari diproduksi dari kandang Wiwot

Selain itu, harus ada hitungan biaya mengganti itik yang afkir (itik yang berhenti bertelur). Dalam istilah ekonomi namanya biaya penyusutan. Harga normal itik yang sudah bertelur (umur 6 bulan) sebesar Rp.75.000 per ekor. Sementara harga itik afkir di pasaran sebesar Rp.50.000 per ekor. Lantas biaya yang harus ditanggung oleh Wiwot sebesar Rp.25.000 per ekor atau Rp.83 per hari selama satu periode (10 bulan). Dengan populasi 20.000 ekor maka biaya per hari yang harus ditanggung Wiwot sebesar Rp1,6 juta. “Biaya penyusutan ini yang sering diabaikan oleh petani. Keuntungan yang diperoleh idealnya harus bisa mengganti biaya penyusutan,” imbuh Wiwot.

Wiwot yang juga kolektor tanaman Bonsai ini selalu memperhatikan empat hal, yaitu pakan, air, kandang, dan lingkungan. Bahan pakan yang digunakan Wiwot terdiri dari konsentrat, tepung kepala udang, dedak, dan roti kering. Pakan tersebut dicampur menggunakan mesin pengcampur (mixer). Kecuali konsentrat, bahan baku pakan tersebut diperoleh dari hasil industri olahan pabrik di wilayah Kabupaten Karawang.

“Konsentrat dibeli dari salah satu industri pakan di Kabupaten Serang (Banten) lantaran di Karawang belum ada industri pakan itik. Biasanya biaya pakan tersebut didahulukan oleh pengusaha telur asin bernama Ruly Lesmana. Biaya pakan ini nanti akan dibayar dengan telur itik,” ujarnya.Wiwot juga tak lupa memberi vaksin dan obat cacing terhadap itik peliharaannya. Kalau ada itik yang sakit, ia memberikan parasetamol atau antibiotik, dan juga daun pepaya agar nafsu makan itik kembali normal.

Dengan beternak itik Wiwot bisa menjadi pengusaha yang sukses di bidang peternakan. Kesungguhannya dalam memperhatikan hal-hal kecil membuatnya tetap bertahan dan terus maju dalam menghadapi berbagai masalah.

Iklan

Tentang febroni

Jurnalis
Pos ini dipublikasikan di Tak Berkategori. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s